Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Palembang
Masjid Sultan Mahmud Badaruddin atau dikenal juga sebagai Masjid Jayo Wikramo adalah masjid agung kebanggaan Kota Palembang yang sarat nilai sejarah dan budaya Islam. Dibangun dengan arsitektur megah yang memadukan unsur Melayu, Tionghoa, dan Eropa, masjid ini menjadi pusat ibadah sekaligus destinasi wisata religi. Terletak strategis di jantung kota, masjid ini tak hanya ramai saat salat Jumat dan hari besar Islam, tetapi juga setiap hari sebagai tempat belajar agama dan kegiatan sosial. Masjid Sultan Mahmud Badaruddin menjadi simbol kejayaan Islam dan persatuan masyarakat Palembang hingga kini.

Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo: Ikon Sejarah dan Keislaman di Bumi SriwijayaMasjid
Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, lebih dikenal sebagai Masjid Agung Palembang, adalah salah satu masjid tertua dan termegah di Indonesia. Berlokasi di pusat Kota Palembang, masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah utama bagi umat Islam, tetapi juga simbol kejayaan sejarah, budaya, dan arsitektur dari masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Sejarah Berdirinya Masjid
Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, yang memerintah dari tahun 1724 hingga 1757. Pembangunan dimulai pada tahun 1738 dan diresmikan pada tahun 1748. Pada masa itu, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan politik di wilayah Kesultanan Palembang.
Menara masjid ditambahkan sekitar satu dekade kemudian, yaitu pada tahun 1758, di masa Sultan Ahmad Najamuddin. Menara ini dibangun dengan gaya yang khas, menyerupai bentuk pagoda, menunjukkan adanya perpaduan budaya lokal dan pengaruh asing yang harmonis.
Arsitektur Unik Perpaduan Budaya
Masjid ini menampilkan perpaduan tiga unsur budaya: Melayu, Tiongkok, dan Eropa. Atap limas bertingkat tiga mencerminkan arsitektur tradisional Nusantara. Menara yang menyerupai kelenteng menampilkan pengaruh arsitektur Tiongkok, sementara jendela besar dan ornamen bangunan menunjukkan sentuhan gaya Eropa.
Bangunan utama masjid berdiri megah dengan warna dominan putih dan hijau. Interiornya dihiasi dengan kaligrafi indah dan ornamen bernuansa islami. Perpaduan gaya ini tidak hanya menciptakan keindahan visual, tetapi juga merepresentasikan semangat toleransi dan keterbukaan budaya di Palembang.
Renovasi besar dilakukan pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, dengan tetap mempertahankan unsur asli bangunan. Renovasi ini memperluas area masjid dan memperkuat struktur tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.
Lokasi Strategis dan Kapasitas Besar
Masjid Agung ini terletak di jantung Kota Palembang, tepatnya di kawasan 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil. Lokasinya sangat mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota, baik menggunakan kendaraan umum maupun pribadi.
Dengan luas kompleks mencapai lebih dari 15.000 meter persegi, masjid ini mampu menampung hingga 15.000 jamaah dalam satu waktu. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu masjid terbesar di Sumatera Selatan, bahkan di Indonesia.
Halaman masjid yang luas juga sering digunakan untuk kegiatan keagamaan skala besar, seperti sholat Idul Fitri dan Idul Adha, tabligh akbar, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.
Pusat Aktivitas Keagamaan dan Pendidikan
Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial. Kajian rutin, pelatihan keagamaan, serta kegiatan kepramukaan dan remaja masjid menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari.
Masjid Agung juga kerap menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai peringatan hari besar Islam. Di bulan Ramadan, masjid ini ramai dengan kegiatan tadarus, buka puasa bersama, dan iktikaf. Suasana religius semakin terasa, mempererat hubungan spiritual antarwarga kota.
Selain itu, masjid ini juga berperan penting dalam membina generasi muda melalui pengajaran Al-Qur’an, bahasa Arab, hingga pelatihan kepemimpinan islami.
Nilai Sejarah yang Tinggi
Masjid ini merupakan saksi bisu dari berbagai fase sejarah yang dilalui Kota Palembang, mulai dari masa kejayaan kesultanan, penjajahan kolonial, hingga kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh penting pernah menyampaikan pidato dan ceramah di masjid ini, menjadikannya sebagai tempat yang tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga nilai historis dan kultural.
Sebagai warisan budaya yang dilestarikan, masjid ini sering dijadikan objek studi oleh para sejarawan, arsitek, dan akademisi dari dalam dan luar negeri. Bangunannya yang kokoh dan bersejarah menjadikannya sebagai lambang kejayaan Islam di Sumatera.
Daya Tarik Wisata Religi
Bagi wisatawan, Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin merupakan destinasi religi yang tidak boleh dilewatkan. Selain arsitekturnya yang megah dan sarat nilai sejarah, masjid ini juga terletak dekat dengan ikon kota lainnya seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan Sungai Musi.
Wisatawan dapat merasakan suasana spiritual yang khas, sembari menikmati keindahan bangunan dan keramahan masyarakat Palembang. Banyak yang datang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur masjid.
Bagi pelajar dan mahasiswa, masjid ini juga sering menjadi tempat studi lapangan yang menggabungkan unsur sejarah, budaya, dan agama dalam satu lokasi yang autentik.
Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo adalah permata spiritual dan budaya di Bumi Sriwijaya. Keindahan arsitekturnya, sejarah panjangnya, dan peran strategisnya dalam kehidupan keagamaan serta sosial menjadikan masjid ini lebih dari sekadar tempat ibadah.
Ia adalah simbol kekuatan iman, persatuan, dan kejayaan Islam di Sumatera Selatan. Kunjungan ke masjid ini tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang budaya dan sejarah Indonesia yang luar biasa.
CS Area Palembang
CS Area Palembang